Sungguh aku amat merindukan langkahku hadir di
sana. Lantai yang begitu dingin, tak peduli kala siang maupun malam. Hamparan
langit yang terbentang luas di atasnya. Bagai payung cerah yang menyinari,
namun tetap melindungi kita dari silaunya senyum sang matahari. Sekeliling
kulihat ratusan ribu atau mungkin lebih manusia, yang di dalam hatinya
sama-sama mengingat satu hal, Allah. Semua gumam akan zikir dan doa yang tak
pernah putus, seakan memelukku dalam balutan kehangatan.
Kutatap rumahMu nan megah. Hatiku bergetar
sejak pertama kali mengingatnya. Ratusan ribu kilometer kutempuh untuk hadir di
sana. Semenjak aku kecil, aku selalu membayangkannya dalam sholatku. Menjaga
khusyukku akan kiblatku. Namun akhirnya aku bisa berdiri di dalam rumahMu,
menatap Ka’bah yang menjulang. Begitu besarnya dia, hingga aku merasa makhluk
paling kerdil yang telah ada.
Banyak orang telah berlinang air mata, menciumi
Ka’bah. Bagiku semua itu sangat mengharukan. Kupimpin langkahku untuk kian
dekat ke arahnya. Sungguh bangunan yang wangi, bersih, meskipun jutaan orang
telah menyentuhnya. Ka’bah itu tak kemana-mana. Namun kamilah para manusia yang
mengililinginya. Dengan segala macam zikir yang kami ucapkan, segala doa dan
harapan yang kami bacakan di tiap sudutnya, kami benar-benar bagai larut dalam
adukan kasih ilahi.
Kian masuk ke dalam lingkaran kecilnya, semakin
aku merasa penuh desakan. Kuingat bahwa tak boleh bagi kita menggunakan
kekerasan demi mencoba menyentuhnya. Apalagi menyakiti orang lain demi mencium
hajar aswad, berdoa di Multazam, sholat di hijr ismail. Jika Allah menghendaki
kita bisa dekat dan meraihnya, maka tiada satupun yang akan bisa
menghalanginya.
Sudah hampir dua jam aku berdiri di depan
Multazam. Sambil terus berzikir dan memohon kepada Allah agar diberi kemudahan
dan kesempatan bisa lebih dekat ke Multazam dan mencium Hajar Aswad. Tak ada
yang bergerak. Tembok Ka’bah itu masih sekitar dua meter dari gapaian tanganku.
Di sekitarku berdiri pria-pria yang berasal dari Negara lain. Entah dari mana
saja, yang jelas tinggi badanku hanya seketiak mereka. Mereka mulai saling
mendorong. Kurasa beberapa dari mereka telah habis kesabarannya. Luar biasa
diriku terguncang. Namun aku tetap berdoa pada Allah agar diberi kekuatan untuk
masih bisa bertahan di sana.
Mereka yang telah berhasil mencium Hajar Aswad
bahkan tak mampu membalikkan badan mereka untuk memberi kesempatan pada yang
lainnya. Semua mulai saling mendorong ke arah Multazam dan Hajar Aswad. Aku
mulai merasa kehabisan nafas. Dengan kerumunan pria-pria tinggi itu, aku harus
menengadahkan kepalaku agar bisa menghirup oksigen.
Kudengar beberapa orang di depanku, termasuk
wanita paruh baya, mulai berteriak. Ternyata mereka yang telah berhasil mencium
Hajar Aswad memilih untuk memanjat ke Ka’bah dan melompat seadanya ke atas
hamparan orang-orang yang tak bisa bergerak di sana. Dengan kasar mereka
menginjakkan kakinya di kepala kami yang mulai berdesakan di bawah, dan dengan
ringannya melangkahkan kakinya di atas kepala atau pundak kami hingga berhasil
menjauh dari Hajar Aswad dan Multazam itu. Kami yang berada di bawah tak punya
pilihan untuk menghindar. Kami hanya bisa pasrah apabila kepala kami diinjak.
Sakit, luar biasa sakit, tapi tak boleh hati ini mengeluh, apalagi hingga mulut
ini mengumpat kekesalan.
Kepalaku masih menengadah. Tapi kali ini sudah
tak ada lagi oksigen yang bisa kuhirup. Kali itu aku pertama kali merasakan
bahwa tak ada udara yang berhasil masuk, walaupun aku telah menarik nafas
sekuat tenaga. Aku hampir panik. Aku mulai takut tak bisa bernafas. Rasanya
benar-benar seperti tercekik dan tenggelam dalam lautan. Sementara tak bisa
beranjak pula dari situ, dan orang-orang semakin liar dan ganas. Tak peduli
apakah di sana ada wanita atau bahkan orang tua.
Aku tidak sendiri. Ada abang tertuaku yang
bersamaku di sebelahku. Pun dia mungkin merasakan hal yang sama denganku, namun
aku pikir pastilah dia lebih kuat dariku, karena dia seorang laki-laki. Dia tak
berusaha memelukku atau melakukan tindakan yang benar-benar menjagaku. Dia
hanya selalu membisikkanku untuk selalu berdoa pada Allah agar bisa terus
bertahan dan diberi kesempatan.
Kurasa sudah dua jam akhirnya kami di sana.
Masih dalam keadaan tak bergerak dan sesekali terinjak. Usai subuh kami masih
berdiri dalam kegelapan langit, hingga kini langit telah memiliki rona merah yang
menyeruak dalam langit biru yang indah.
Nampaknya abangku mulai melihat aku kelelahan.
Hingga akhirnya dia berkata mungkin sebaiknya aku mencoba di lain kesempatan.
Akupun langsung merasa kesedihan menyelimutiku. Bagaimana tidak, hari itu
adalah hari terakhir aku berada di tanah suci. Selain hari itu, tak ada lagi
kesempatan bagiku dalam periode ini. Berulang kali abangku meyakinkanku bahwa
Allah akan memberikan rezeki padaku untuk kembali ke sana. Mungkin dengan
suamiku kelak. Tapi entah kenapa rasanya aku masih ingin berusaha, walaupun
nafasku telah putus-putus.
Bukan berarti aku tak percaya akan rezeki yang
didatangkan oleh Allah. Namun, apakah kita tahu bahwa mungkin Allah akan
mendatangkan ajal terlebih dahulu untuk menjemput kita? Apakah saat kita diberi
kesempatan ke sana lagi kita masih dalam keadaan sebugar sekarang? Tak ada yang
tahu. Kemudian kukatakan pada abangku bahwa aku masih ingin berusaha. Dan aku
memohon padanya untuk tidak menggiringku ke luar dari kerumunan itu.
Dan sekali lagi kepalaku terinjak. Kali ini
benar-benar kurasakan sakit. Mungkin karena ditambah sudah kekurangan oksigen
juga. Badanku mulai lemas. Pikiranku mulai sesekali melayang ke pikiran yang
tak seharusnya.
Entah sudah berapa menit pikiranku kosong,
hingga seorang pria bertinggi (aku sangat yakin) minimal dua meter itu menyapa
abangku.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. You want to kiss Hajr Aswad?”
tanya abangku.
“You want to kiss Hajr Aswad?” dia balik
bertanya.
“I asked you.”
“I asked you.”
Entah berapa lama mereka saling bertanya
beberapa pertanyaan, namun yang kudengar hanyalah pria tinggi itu selalu
mengulang pertanyaan abangku. Aku lelah mendengar mereka. Aku tak mampu lagi
menengadahkan kepalaku, akhirnya aku menunduk. Tak peduli sudah tak ada oksigen
yang bisa kuhirup, aku mulai pasrah. Aku mulai berpikir bahwa tak mengapa aku
meninggal di sini. Luar biasa akan disolatkan oleh ratusan ribu orang di sini.
Semua akan mendoakanku. Aku mungkin akan masuk Surga. Ya, solat di sini kan
pahala seratus ribu kali lipat. Pandanganku mulai mengabur. Kulihat di bawah
ada darah berceceran. Entah milik siapa. Mungkin orang yang terinjak tadi.
Bagaimana jika itu darah ibu tua tadi? Atau darah kakek tadi? Bagaimana keadaan
mereka sekarang? Di mana mereka? Aku sangat pasrah.
Kukatakan dalam hati ini, ya Allah jika Kau tak memberi kesempatan padaku
kali ini untuk mencium Hajar Aswad, tidak apa. Kumohon berikanlah aku rezeki
untuk kembali lagi ke rumahMu ini dalam keadaan sehat walafiat. Namun jika Kau
ingin memanggilku saat ini kehadapanMu, aku telah siap ya Allah. Walaupun diri
ini mungkin pernah bergelimang dosa, aku yakin Kau akan mengampuni segala
khilafku selama di dunia ini dan lancarkanlah langkahku menuju hadapanMu. Ya Allah,
jika Kau masih mengizinkan aku hidup sekali lagi, aku berjanji akan selalu
berusaha jadi manusia yang bertakwa. Aku akan mengawali dengan menjalankan
kewajibanku sebagai seorang muslimah yaitu menetapkan jiwa ragaku untuk
mengenakan hijab. Aamiin.
Aku lupa apakah kemudian aku masih bernafas. Sampai pria tinggi dengan
gamis sangat bersih berwarna putih dan kulitnya yang sangat hitam itu berkata,
“Let me help you and your wife.” Katanya pada abangku.
Kemudian abangku menolaknya. Aku tahu abangku berkata no dan
menggelengkan kepalanya. Aku paham pasti abangku sangat khawatir jika pria ini
akan melakukan kekerasan untuk menyingkirkan orang-orang di sekitarnya demi
membuka jalan menuju Hajar Aswad kepadaku.
“Follow me.” Ucap pria itu.
Tanpa sempat mengucapkan kata-kata lagi, pria itu seolah berkata
“permisi” pada orang-orang yang sejak dua jam tadi memenuhi depan Hajar Aswad
dan Multazam itu. Tiba-tiba kulihat jalan terbuka dengan lebarnya menuju Hajar
Aswad. Tanpa ada satu orangpun. Aku bisa melihat lantai bersih Masjidil Haram,
yang awalnya tadi kulihat ada percikan darah. Tanpa sadar aku bernafas kembali. Dalam sepersekian detik,
semua berjalan bergitu cepat! Aku bisa melihat jalan itu terbuka, Hajar Aswad
berdiri dengan lapangnya, pria itu berkata “Please.” sambil mengarahkan untuk
segera masuk ke jalan terbuka itu, hingga aku tersadar begitu abangku
berteriak, “SEKARANG!! BURUAN!”.
Aku yang kaget langsung melangkah masuk ke dalam jalan itu, seolah
orang-orang di sekitarnya membeku. Dalam hitungan dua detik aku benar-benar
berdiri di depan Hajar Aswad. Aku hampir termenung lagi tak percaya. Kutengok
pria besar itu di tempatnya, namun dia tak lagi di sana. Entah ke mana dia
pergi. Cepat sekali.
“CIUM!!” teriak abangku.
Akhirnya kumasukkan kepalaku ke dalam Hajar Aswad dan aku menciumnya. Dua
kali kumasukkan. Begitu dingin, wangi, aku bisa merasakan bibirku menyentuh
pecahan batu dari Surga itu. Luar biasa.
Keberhasilan yang indah itu hanya sampai di situ saja. Kedua kalinya
kukeluarkan kepalaku dari sana, aku bisa merasakan seseorang menarik belakang
kerah bajuku dengan kerasnya. Aku bagai tercekik. Dan kali ini aku benar-benar
tak merasakan kakiku menginjak tanah. Aku melayang. Ditarik oleh banyak orang
untuk menjauhi Hajar Aswad karena mereka juga ingin menciumnya. Mereka tak
peduli akan nyawaku. Jika kali itu aku benar jatuh ke tanah, habislah sudah aku
terinjak oleh mereka tanpa ada kesempatan untuk bangkit berdiri. Aku
berteriak-teriak. Aku tak merasa abangku ada di dekatku. Mungkin dia juga
terpisah karena kerusuhan orang-orang tersebut. Dan aku masih melayang. Aku
berusaha sebisa mungkin untuk tidak jatuh. Tiba-tiba aku takut Allah
mengabulkan doaku untuk kembali kepadaNya. Tentu saja dia akan mengabulkannya!
Aku telah berdoa di Multazam. Dia baru saja mengabulkan doaku mencium Hajar
Aswad, dan mungkin kali ini Dia akan mengabulkan doaku yang lain tadi, yaitu
kembali padaNya.
Aku terseret melayang cukup jauh dan memang menjauhi kerumunan depan
Hajar Aswad itu. Aku merasakan kali ini pasti jatuh ke lantai. Namun untungnya
lantai yang sudah agak jauh dari kepadatan itu. Akhirnya abangku menemukanku
dan menarikku menjauh. Saat itulah aku menangis sejadi-jadinya.
Sungguh pengalaman antara hidup dan mati yang luar biasa. Dalam beberapa
jam terakhir aku telah diberikan hidayah oleh Allah. Di hari terakhirku di kota
Mekkah. Usai melaksanakan ibadah haji wada’, kemudian berdoa di Multazam,
mencium Hajar Aswad. Diberi kesempatan merasakan bagaimana jika kematian datang
menjemput, bagaimana rasa sayang Allah tercurah kepada kita para umat Islam.
Sungguh luar biasa.
Tak ada lagi yang bisa kukatakan selain bersujud syukur dan meyakinkan
diriku bahwa inilah saatnya Allah memberikan hidayahNya untukku untuk
menjalankan kewajiban seorang muslimah, yaitu berhijab. Insha Allah selalu
istiqomah dan bisa menjadi benteng untuk diri ini. Aamiin..
Bagi kalian yang belum berhijab, mungkin kalian masih menunggu hidayah
dari Allah. Tapi sadarkah kalian bahwa kalianpun juga harus berusaha dalam
menjemput hidayah tersebut. Seberapa kuat kita berdoa agar hidayah tersebut
lekas datang? Seberapa lemah kita pada godaan dunia bagi kaum wanita? Kapan
kita akan sadar bahwa berhijab adalah kewajiban. Bukan sesuatu yang
okelah-nanti-juga-gapapa.
Banyak yang memutuskan untuk mengenakannya setelah menjadi istri dan ibu
untuk tiga orang anak. Apakah ini belum terlambat? Justru di masa muda ini lah
nafsu bergitu gencar menggoda iman manusia. Menggunakan hijab memang tak
menjamin kau akan suci 100% dari dosa, namun setidaknya hijab akan menjadi
benteng dirimu untuk selalu melakukan hal baik yang diridhoi Allah.
Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah swt. dan semoga sedikit cerita ini bisa menginspirasi kalian yang belum tersadar akan kewajiban berhijab ini. Aamiin…… )