Wednesday, May 8, 2013

sensitif sekali


Kadang kata-kata terasa tajam
Saat tak sesuai dengan interpreatsi kita
Kadang menjadi iritasi mendengarnya
Saat gaungnya hanya mengulang kesalahan

Maaf saja belum terucap
Bagaimana bisa senyum ini tersimpul kembali?

Sekali lagi kau sebut dirimu orang baru
Tanpa pernah sedikitpun kau pahami
Bahwa dirimulah yang membuat aku baru
Dan baru saja kau ucapkan kata itu
Yang membuatku terlalu mengharu biru

Aku baru saja menjadi diriku sendiri
Tertawa lepas dan bisa menertawakan diri sendiri
Mengelak tawa yang membuatku mampu berdiri
Dalam pijakan hidup yang sempat kukira berduri

Pahamilah bukan posisiku
Melainkan posisimu bagiku

come what may

Buat kamu, yang terlalu takut untuk membuka lembaran baru.
Maka beli saja sebuah buku baru.

Tanggal sekian di bulan sesuatu pada tahun kini


Mengapa pula kutuliskan sebuah tanggal?
Hari ini bukan tanggal cantik.
Adakah sesuatu yang membuatnya terlihat cantik? hmm..

Saat pandangan mencoba menatap ke depan, di mana sebuah liukan tercipta.
Bukan dari seorang penari, dan bukan pula hadirnya labirin.
Mencoba menelusurinya untuk mencari sebuah jalan ke luar.
Jalan ke luar ke mana?
Memang aku sedang di dalam apa?
Mengapa mau mencoba ke luar?

Ah, banyak cakap sekali kau, diriku!
Sadarkah kau apa yang hadir di bibirmu?
Tahukah kau apa yang menghiasi pipimu?
Sudahkah kau lihat isi hatimu?
yang dulu berdinding kelam dan kedinginan
yang ditinggalkan penuh caci dan maki
terinjak tak bernyawa
seolah padam.

Apakah kau kini menyadari?
Bahwa ketika pensil ini menggores
Ada senyum merekah di bibirmu
Ada rona merah terpancar di pipimu
Ada seseorang yang mungkin sedang kau tanyakan,
Pantaskah dia di hatimu?

Kadang kau berpura-pura bodoh untuk mencoba memahami makna sebuah kepintaran
Dalam liukan visi yang dapat diterka
Seolah derap kaki menuju seirama
Cahaya bintangpun tak sanggup menggoda
Bulan mengintip di balik pelukan sang awan

Mungkin kali ini mereka benar, 
bahwa sekali lagi kau berubah
Seolah menjadi orang yang sedang memahami
bahwa cinta bisa datang kapan saja..

Sunday, April 14, 2013

child to parents!


8 fakta kelakuan anak terhadap orang tua:
  1. Anak selalu berfikir orang tuanya pilih kasih terhadap saudaranya
  2. Anak selalu merasa terkekang oleh orang tuanya
  3. Anak selalu merasa lebih pintar dan membantah nasihat orang tua
  4. Anak selalu merasa bahwa dirinya tidak disayang
  5. Anak selalu memperhitungkan segala sesuatu yang telah ia lakukan untuk orang tuanya
  6. Anak selalu membingungkan harta warisan
  7. Anak selalu menganggap remeh sesuatu pekerjaan yang telah diberikan
  8. Anak selalu membentak orang tuanya saat berbicara

8 fakta yang tidak diketahui oleh anak:


1. Anak tidak mengerti bahwa dibalik sepengetahuannya, orang tua selalu memuji anaknya di depan saudaranya

2.   Anak tidak mengerti bahwa semua yang dilakukan orang tuanya hanya untuk kebaikan masa depan anak

3.  Anak tidak mengerti bahwa orang tuanya telah menjalani kehidupan yang lebih keras dibanding anak

4. Anak tidak mengerti bahwa di setiap doa dan harapan orang tua nama anak selalu diingat

5.  Orang tua tidak pernah memberitahukan mengenai pengorbanannya selama melahirkan kita

6.  Orang tua telah mempersiapkan harta warisan untuk anaknya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkan

7.   Orang tua tidak rela melihat anaknya hidup bersusah-susah di tempat orang lain

8.  Anak tidak mengerti, setiap kali ia membentak, hati orang tua akan bergetar dan menyebabkan umurnya lebih pendek



Monday, March 18, 2013

Talk 

is

cheap.




That's why i write these things.

where every moment spent






...where every moment spent with you 

is a moment I treasure...

tahun ke 21

Lia. 2009.
katakan aku masih terlalu muda saat itu
dihadapkan pada Dia yang menciptakanku
melintasi kehidupan yang begitu dekat denganNya

ketika setiap langkah adalah tuntunanNya
ketika setiap ucapan adalah namaNya
ketika setiap air mata adalah cintaNya

begitu polos dan tak berdaya
menganggap semua adalah skenario mereka

bodoh dan angkuh
menatap hari layaknya bisa terbang
memberi janji layaknya tak pernah menghilang

yang kemudian menjauh bagai pasir
tertelan ombak yang menyapu
yang kemudian mengering bagai daun gugur
pura-pura tak mengenal cahaya matahari

tahun ke-21 kala itu
meniti jejak jati diri
yang terlalu liar untuk dimiliki

lancang dan hina

Lancang sekali rasanya.
Mengharapkan tubuh ini disinari mentari pagi
Setelah semalaman berlarian di tengah hujan
Tak mengindahkan panggilan ibunda
Yang selalu mendoakan setiap langkah kita

Hina sekali rasanya.
Membiarkan hati ini dipenuhi ladang bunga
Setelah seumur bernafas dalam putaran debu
Tak menjawab pertanyaan sang ayah
Yang tak lain adalah cintanya pada kita

Tertatap senyumnya adalah relung yang terkoyak
Menyambut katanya adalah jiwa yang tak utuh
Dia yang kini ada di depanku
Menatap diriku dengan penuh tanda tanya
Seberapa pantas kaki ini berpijak
diiringi langkah kakinya
Seberapa besar hati ini berpihak
diselingi ucapan doanya

Wanita macam apa yang mengharapkan pria
Saat dia tak pernah menyadari dirinya luka
Wanita seperti aku yang merindu hadirnya
Saat dia terlalu nyata untuk diimpikan

Terlalu lancang dan hina
Kembalilah wanita ini di tempat seharusnya dia berada