Tuesday, February 2, 2016

Keikhlasan dan cinta baru

-->
Kadang kita harus mengikhlaskan seseorang yang kita cintai. Bukan karena tak ingin lagi bersamanya, melainkan melihat dia lebih bahagia tanpa kita.
Seringkali kebersamaan melahirkan sebuah perasaan ingin memiliki yang tak kunjung ada habisnya. Orang yang kita sayangi itu bukan objek atau hewan peliharaan kita. Dia hanyalah seorang manusia biasa. Begitu pula dengan kita.
Saat kukatakan dia hanyalah seorang manusia biasa, itu berarti dia juga bisa melakukan kesalahan. Kita sudah melakukan kesalahan. Yaitu percaya pada dirinya. Padahal kita mungkin lupa, bahwa dia mungkin tak pernah berjanji untuk tidak akan pernah berdusta pada kita. Yang kita tahu cinta itu indah. Padahal cinta itu hanyalah kepada Allah.

Kejujuran itu mudah. Sayang tak semua orang mau melakukannya.
Kebohongan demi menjaga perasaan orang yang dicintai bukanlah berarti tidak berdosa. Jika kalian paham syariat agama, segala sesuatu yang melukai hati pasangan kita tidak dibenarkan. Di sinilah syarat dan ketentuan berlaku. Berlaku untuk siapa? Tentu untuk semua hal yang akan kita pertanggungjawabkan.

Memojokkan memang lebih enak daripada merasa terpojok. Belum selesai kebohongan itu terbuka, harga diri ingin berada di atas segalanya. Ingin melupakan semua keterbukaan hati atas segala kekurangan yang dimiliki. TIba-tiba merasa paling benar dan tak mau disalahkan. Tebing yang dulu terlihat kini tak lagi terlihat. Karena aku kini ada di tepinya. Selangkah lagi saja aku maju, aku akan jatuh terhempas ke jurang dalam yang tak berujung. Meninggalkan rasa cinta yang dulu sempat kupuja.

Jangan pernah berharap kata maaf dari orang yang tak pernah merasa berbuat salah. Bagai mengharap ayam menggonggong, hal yang tak mungkin. Kembali lagi pada dunia ini, di mana yang dibutuhkan hanyalah cinta kepada Allah. Bukan kepada salah satu ciptaanNya yang mungkin telah menyakiti hati. Dekati terus Allah. Biarlah Allah yang memelukmu, biarlah Allah yang mengusap air matamu, biarlah Allah yang menjawab semua pertanyaanmu, karena hanya Dial ah yang sungguh-sungguh mencintaimu tanpa kamu minta. Kau tak minta dilahirkan, Allah beri izin kau hadir dalam perut ibumu. Kau tak minta diberikan kemampuan berkedip, Allah lahirkan kau dengan sempurna. Bisa berkedip, bisa bernafas, bisa segalanya hingga seperti sekarang ini.

Sekarang jika kau habiskan waktumu menangisi apa yang sedang terjadi, atau menanyakan hal-hal yang belum terjadi, maka kau sungguh hanya buang-buang waktumu hidup di dunia. Lupakan siapa saja yang telah menggoreskan luka di hatimu, lupakan pertanyaan-pertanyaan yang kau harap temukan jawabannya. Karena kebersamaanmu dengan Allah, yang telah menciptakan kita dengan sempurna, semua luka akan terobati, semua pertanyaan akan terjawab. Dan semua keadaan menjadi yang terbaik atas kehendakNya.

Tuesday, September 22, 2015

Hidup Baru

Pernikahan adalah akad dari segala hal bernama kebaikan.

Entah sudah berapa kali aku menuliskan kalimat itu. Sebuah kalimat yang dulu, saat pertama kali kubaca, membawa aku pada harapan besar akan hadirnya seorang imam dalam hidupku.

Akhirnya tiba sudah hari itu.

Hari yang telah kunantikan sekian lama, akhirnya aku tiba juga melangkahkan kaki pada hari itu. Hari pernikahanku.

Bukan jalan yang mudah untuk ditempuh untuk mencapainya, namun tak ada hal tak mungkin jika kita hanya berpasrah akan semua usaha kita kepada Allah semata.

Setelah prosesi ijab kabul semua duniaku serasa berubah. Sempat masih berpikir tak percaya bahwa akhirnya telah menikah dalam beberapa hari ke depan. Perasaanku seakan membuncah tiap kali kuingat momen ijab kabul itu.

TIba-tiba aku melihat sesosok pria yang duduk di sebelahku pagi itu sebagai sosok yang berbeda. Sosok yang luar biasa. Beda dengan dia yang telah aku kenal sejak lama. Rasanya aku seperti jatuh cinta.

Ternyata inilah awal indahnya pacaran seusai pernikahan yang orang-orang maksudkan. Tepat sesusai prosesi ijab kabul, aku mendengar suamiku menoleh ke arahku seraya membisikkan "assalamualaikum, istri.". Belum sempat aku menoleh untuk menjawabnya, rasanya kebahagiaan lain bertubi-tubi menghampiri diriku. Aku hanya bisa tersenyum dan berucap alhamdulillah sesering mungkin.

Setelah aku merasakan jatuh cinta pada dirinya untuk pertama kali, akupun bisa merasakan kebaikan dalam dirinya. Tanpa hal-hal yang sering dirasakan oleh kebanyakan orang yang sudah terlebih dahulu pacaran. Perasaan seperti cemburu, digantungin, PHP, baper, galau dan lainnya tak kurasakan sama sekali. Aku hanya merasakan dia yang membalas cintaku dengan penuh kasih sayang, dia yang berkata sayang setiap hari, dia yang dengan sabar membimbingku, dia yang tak pernah memarahiku jika aku salah, dia yang selalu mengajakku untuk selalu lebih dekat pada sang pencipta. Dialah suamiku.

Alhamdulillah, perasaanku kini sungguh tak terkira. Sekarang hanya bagaimana aku bisa menjadi istri yang sholeha untuk imam terbaikku. Aku akan terus belajar untuk bahagia bersamanya. Karena aku telah menyadari betapa Allah telah memberikan aku hadiah terindah yang bisa aku terima untuk membimbingku menjalani hidup baruku. Terima kasih ya Allah. :')

I love you, suamiku.

Sunday, September 6, 2015

H-6


H-6

Menuju hari besar dalam hidupku.

Hari yang selalu ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga menghampiri. Aku akan menikah dengan pria yang Allah kirimkan untukku. Tepat pada waktu-Nya. Jawaban atas segala doa-doaku yang selalu kupanjatkan dalam penantian akan jodoh. Semoga benar dialah jodohku di dunia dan di akhirat kelak.

Bersamanya aku akan meraih pintu surga, melalui pengabdianku menjadi seorang istri yang sholehah. Aamiin..

R. Namanya R. Orang yang hadirnya secara tiba-tiba dalam hidupku. Orang yang hadir saat aku tak butuh akan cinta dan muak akan kisah cinta. Seperti yang kupanjatkan dalam doa, bahwa aku memohon pada Allah untuk meredakan perasaanku untuk suatu hal bernama cinta. Ibarat handphone, aku minta Allah untuk menonaktifkannya. Dan sesaat setelah aku berdoa demikian (benar-benar sesaat) itulah kali pertama aku berkenalan dengannya.

Kalau diingat-ingat, ternyata sudah 2,5 tahun aku mengenalnya. 1 tahun terakhir kami isi dengan persiapan pernikahan kami. 1 tahun sebelumnya lagi adalah masa penjajakan kami sementara setengah bulan sebelumnya kami membuka diri akan sifat-sifat kami. Tak terasa.

Namun tak mudah, sungguh tak mudah. Memahami orang lain dengan segala hal yang ada pada dirinya sementara kita berharap dan terus berdoa apakah dia jodohku? Semoga dia jodohku.

Semua doa dan kebimbangan akan jodoh di awal pertemuan dengannya berubah menjadi satu konsep bagi kami. Yaitu kami ingin sama-sama berusaha memantaskan diri.

Kamu mau jodoh yang baik? Ya kamu harus menjadi baik.
Bagaimana bisa kamu merasa pantas untuk mendapatkan jodoh yang baik sementara kamu biasa-biasa saja atau bahkan buruk, sementara Allah itu maha adil.

Berlandaskan konsep itu kami sama-sama memantaskan diri. Bukan untuk dia dan bukan untuk aku. Tapi kami memantaskan diri untuk jodoh kami kelak. Jika kami sudah baik dan pantas mendapatkan jodoh yang baik, bukan tidak mungkin dengan doa dan harapan penuh pada Allah maka Allah membuat kami saling jatuh cinta. Jatuh cinta karena Allah pastinya.

Aku tidak mengatakan bahwa kami sudah sama-sama sangat baik, namun aku mengatakan bahwa pada akhirnya Allah memberi jalan pada kami yang bertekad memperbaiki karena Allah. Aku yakin semua terjadi atas seizin-Nya.

Yang harus dilakukan saat ini  adalah bersyukur. Bersyukur karena Allah telah memberikan jawaban atas segala doa selama ini. Bersyukur karena dengan kelebihan pasangan yang kita miliki, kita menyadari bahwa Allah begitu hebat menciptakan makhluk-Nya. Bersyukur juga dengan kekurangan yang dimiliki pasangan kita, karena dengan itu semua Allah menguji kesabaran kita. Semua akan ada hikmah-Nya, baik yang telah kita sadari saat ini maupun yang belum kita sadari nanti.

Semoga hari H kelak berjalan lancar. Aamiin… 

Ternyata rasanya deg-degan juga ya?? :D

Monday, June 15, 2015

Lamunanku

Hari demi hari. Rasanya semakin dekat dengan kematian.
Banyak fase dalam hidup ini yang belum aku lewati.
Menikah. Hamil. Melahirkan. Membesarkan buah hati. Patuh selamanya pada suami. Hingga kematian datang menjemput.
Kematian adalah satu hal yang pasti. Seberapa cerdik kau sembunyikan dirimu dari kematian, tetap saja ia akan datang menjemputmu bila telah habis waktumu. Semua hanya masalah nomor antrian saja.

Menikah.
Mungkin hal ini yang paling dekat dengan hidupku saat ini, secara pengetahuanku. Karena akupun tak tahu kapan kematian akan datang menjemputku. Bisa saja aku belum merasakan pernikahan saat ajal menghampiriku. Namun, tentunya aku selalu berdoa pada Allah agar aku diberikan kesempatan untuk bisa merasakannya dengan orang yang akan menjadi jodohku.

Menjelang pernikahan tentunya ada banyak sekali hal yang perlu dipersiapkan.
Materi. Pasti. Hal ini adalah hal nyata yang harus kami ke luarkan untuk mewujudkan pesta pernikahan kami.
Fisik. Kami juga menyadari betapa fisik sangat penting untuk kebahagiaan kami ke depannya. Sebisa mungkin menjaga kesehatan dan memohon pada Allah agar selalu dilindungi dari segala penyakit.
Mental. Tentunya sudah kami persiapkan dalam menghadapi pernikahan ini. Bukan hanya tentang komunikasi, kesabaran dan keikhlasan. Namun jauh di dalamnya ada hal yang tak bisa dilukiskan dalam pernikahan namun wajib sekali untuk dipahami. Terlebih lagi karena kita sudah diberikan nikmat iman dan Islam yang tiada tara dari Allah.

Artikel yang kubaca siang ini membawa aku pada lamunan indah atas kisahku dengan dirinya.


Komunikasi

Saat ini aku tengah menyadari betapa pentingnya kuliah komunikasi yang telah aku jalani 6 tahun yang lalu. Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa kuliah komunikasi bukanlah hal yang penting. Toh semua orang "bisa ngomong". Oke, semua orang memang bisa berbicara. Tapi apakah semua orang mampu berbicara dengan baik dan benar? Terlebih lagi saat mereka menyampaikan maksud dan tujuan mereka.

Aku berbicara seperti ini bukan karena aku sudah level dewa dalam komunikasi. Aku juga masih terus belajar. Selepas dari kuliah, aku juga masih kerap kali salah berbicara bahkan sampai menimbulkan pertengkaran. Aku tiba-tiba teringat pentingnya semua komunikasi itu karena siang ini di saat aku tengah berbalas e-mail dengan seseorang di sebuah perusahaan ternama berlevel multinasional, aku menerima e-mail yang tidak enak.

Padahal dia hanya menulis "resend".

Tapi aku merasa itu bukanlah hal yang pantas. Sebaiknya ia mengingatkan kembali bahwa aku sudah melewatkan untuk membalas e-mail sebelumnya yang telah ia berikan. Bukan hanya dengan menulis "resend". Masalahnya selain menanyakan sesuatu hal, dia juga memintaku menyiapkan berbagai hal yang ia butuhkan. Kemudian dalam sekejap aku menyiapkan dokumen-dokumen yang ia butuhkan. HANYA SAJA aku lupa menjawab satu pertanyaannya.

Alih-alih membalas dengan terima kasih atas dokumennya terlebih dahulu, lalu mengingatkan bahwa saya belum menjawab pertanyaan yang dia butuhkan, dia malah langsung "resend".

Haha di sini saya marah. Sebagai orang yang sangat menjunjung tinggi komunikasi yang jelas, saya tidak terima.

Ya sudahlah. Maaf ini benar-benar curhat dan menumpahkan kekesalan saya saja.
Ini aja ditulis di warnet. hehehe

Saturday, February 7, 2015

First Day of My Life


Hari ini aku merasa sangat bahagia. Ribuan kata yang biasanya ingin aku keluarkan tadi hilang entah ditelan apa. Rasanya tak bisa berkata apa-apa. Kata demi kata kudengar dari mulutnya. Saat ia duduk di seberang sana mengutarakan maksudnya. Bukan di hadapanku, melainkan di hadapan seluruh keluargaku. Aku tak berani menengadahkan pandanganku.

Seketika itu juga perasaanku bagai luruh. Namun bukan hilang begitu saja tak berbekas, melainkan meninggalkan bekas baru pada perasaanku. Sesuatu yang rasanya begitu indah dan pantas. Sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya akan begitu indahnya. Sungguh akupun tak tahu apa yang telah mengalir dalam diriku saat itu.

Bahkan aku tak berani menatap matanya. Padahal biasanya aku bisa berlama-lama menikmati indah wajah dan senyuman hangatnya. Saat itu aku merasa berdosa. Betapa tidak sopannya perlakuanku padanya selama ini. Aku teringat pernah suatu kali dia berkata, “Ngapain sih ngeliatin gitu? Gak sopan tau!” ternyata inilah yang ia maksud. Aku langsung merasa malu dan tak berani mengangkat wajahku.

Seharusnya dari dulu aku lebih mampu menjaga pandanganku. Aku harus mampu mengendalikan hasratku. Dia yang telah datang dalam hidupku tak semata-mata dengan tangan kosong. Namun, Allah telah memutuskan kehadirannya dalam hidupku untuk membawa suatu kebaikan.

Betapa aku sangat menyadari bahwa dia telah datang menawarkan kebaikan padaku dengan segala caranya sendiri. Entah ada yang aku lewatkan, aku abaikan atau aku sadari. Dalam sekejap hari ini aku makin menyadari bahwa apa yang dia katakan dari dulu adalah apa yang dia harapkan bagiku.

Aku hanya bisa tertunduk penuh syukur. Terima kasih ya Allah. Atas izinMu, semua hal baik ini terjadi. Dia mengkhitbahku. 

Monday, October 6, 2014

Perhatikan, Rani!

"You don't know what it's like..."

"I know how does it feel.."

"NO.. absolutely not. You are not me."


Ya. Tak ada seorang lainpun yang bisa merasakan apa yang kita rasakan. Terlebih sebuah kesedihan. 
Apa aku sedang bersedih? Bisa dikatakan ya, bisa juga tidak. Ya, karena memang menyedihkan. Tidak, karena aku sudah mengikhlaskannya.

Aku punya sahabat. Dulu. Aku tak mudah mengatakan seseorang sebagai "sahabat". Karena bagiku sahabat bukanlah seseorang yang sering bersama kita, menghabiskan waktu dengan kita, nyambung kalau ngobrol, asik diajak main. Sahabat itu lebih menjadi seseorang yang bahkan kadang lebih mengenal diri kita daripada diri kita sendiri, lebih bisa mengerti diri kita dibanding ego kita sendiri, tahu tidak hanya apa yang kita mau, tapi apa yang kita butuhkan, seseorang yang tidak hanya memuji keberhasilan kita, tapi juga menampar kita saat kita bodoh. Seseorang yang tak berniat sama sekali mengubah kita menjadi orang lain, tapi selalu mendukung kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tak perlu dibayar dengan apapun, karena kebersamaan kita merupakan sesuatu yang sangat berharga.

Aku punya satu orang sahabat. Namanya Rani Sofiani. Panggilannya Rani. Rumahnya di Ragunan. Aku pernah sayang sekali dengan dia. Kebersamaan kami sudah 20 tahun. Apa rasanya? Sulit sekali dijelaskan dengan kata-kata.

Kira-kira apa saja yang sudah terjadi selama 20 tahun? Sungguh begitu banyak.

Perkenalan kami saat kelas 1 SD merupakan perkenalan yang tidak disengaja. Kami sedang bermain petak umpet dengan beberapa anak baru lain yang kamipun tak saling mengenal. Tak sengaja aku bertemu dia saat bersembunyi di masjid sekolah. Di situ lah kami saling mengenalkan diri. Setelah kembali ke kelaspun kami menyadari bahwa sedari pagi tadi kami sudah duduk di meja yang berdekatan.

6 tahun di SD dia selalu menjadi teman baikku.

Kini kami telah melanjutkan sekolah di SMP yang sama. Namun tak lagi sekelas. Untuk memudahkan bertukar cerita atas yang kami alami selama SMP itu kami menciptakan sebuah buku curhat. Khusus hanya untuk kami berdua dan hanya kami yang boleh membacanya. Kami menyebutnya BuCur (Buku Curhat). Buku itu selalu berpindah tangan kami secara bergantian setiap hari. Oleh sebab itu, setiap di rumah pulang sekolah kami saling mengetahui kabar kami hari itu dan akan kami tulis kembali feedback sebagai masukan atau saran atas masalah dan kejadian yang dihadapi hari itu. Hal itu kami lakukan karena tak mungkin rasanya kami saling ketemuan di sekolah, sementara beda kelas beda tugas beda kesibukan. Kemudian tak mungkin juga telponan di rumah berlama-lama. Bisa mahal bayar teleponnya.. hehe. 

Semua ceritaku dia mengetahuinya. Semua metamorfosaku ada dia di dalamnya. Dia benar-benar teman terbaikku. Banyak kisah yang dituangkan dalam buku itu. Misalnya naksir senior, dilabrak kakak kelas gara2 disukai cowok ganteng di sekolah, ekskul drum band yang menyenangkan tapi menguras waktu sekali, guru2 yang baik dan jahat, kisah keluarga di rumah, ah terlalu banyak! Hingga kami lulus SMP sekitar 30 BuCur sudah kami tulis. Bahkan selain itu kami membuat buku cerpen di mana kami bisa menuliskan cerpen mengenai imajinasi kami akan sesuatu. Luar biasa memang, kami suka menulis dan saling menanggapi dengan tulus. Tau ga? semua cerita imajinasi yang kami tulis dulu kini sudah jadi banyak cerita FTV loh. Keren kan imajinasi kami kala itu??

3 tahun di SMP dia masih menjadi teman terbaikku. Walau mulai banyak juga teman2 baik lain di antara kami.

SMA kami berbeda. Kami berpisah. Sedih rasanya. Namun ini memang kesalahanku karena nilai akhirku yang tidak mencukupi untuk memasuki SMA favorit itu. Akhirnya aku masuk ke SMA favorit di bawahnya. Ingin sekali melanjutkan BuCur, namun sulit karena kami menjadi sangat jarang bertemu. Untungnya saat itu sudah ada HP, jadi kami bisa berkomunikasi melalui SMS atau sesekali menelpon. Itupun kalau lagi kebanyakan pulsa. Kami masih berteman baik. Masih sering jalan bareng ke mall untuk nonton. Masih sangat tahu kisah hidup kami. Bahkan bisa jadi, dengan saling bercerita saja kami jadi saling mengenal siapa teman2 lainnya di SMA tersebut, padahal ga pernah ketemu. 

Masa-masa terbaik dan terburuk mungkin ada di SMA. Kesibukan sekolah sudah merajalela. Kesibukan soal percintaan sudah mulai mengisahkan hidup kami. Dengan siapa kami pacaran, kami saling mengetahui dan memberi masukkan. Tak ayal kami tetap ngeyel dikasih tau, tapi tetap saja dibantu saat salah satu dari kami ada kesulitan.

3 tahun di SMA kami memutuskan bersahabat selamanya. Bestfriend til the end of time.

Memasuki dunia kuliah. Dia mati2an ngejar UI. Aku mati2an ngejar  ITB. Tak ada yang diterima. Saat aku sedang ujian ITB, dia menelepon dan berkata bahwa ayahnya telah meniggal dunia. Saat itu aku merasa bersalah karena tak bisa menemaninya saat dia terpuruk dalam kesedihan. Sementara aku tetap memilih berada di Bandung. 

Tapi bukan berarti karena hal itu kami bertengkar. Kami masih jadi sahabat. Dialah yang sangat mengetahui bagaimana sifat asliku. Dia sangat mengenalku lebih dari diriku sendiri.

Akhirnya dia kuliah di D3 FE UI. Aku nganggur. Karena orang tuaku ingin sekali aku masuk UI. Harus S1. Tidak boleh mengambil universitas swasta. Tidak boleh D3. Ya, orang tuaku memang UI minded. Jujur saja ITB itu aku kejar seorang diri tanpa dukungan orang tua. Kemudian aku menjadi merasa tertekan. Melihat teman-teman seangkatanku sudah mencicipi indahnya bangku kuliah sementara aku masih saja pergi ke bimbel untuk belajar matematika atau sejarah. Sigh. Tapi dia selalu mendukungku. Dia selalu ada disaat aku butuh. Aku masih dirindukan. 

Akhirnya karena menjalani semua pelajaran itu setengah hati, aku tak lolos lagi masuk S1 UI. Aku sangat kalut saat itu. Merasa semua orang memaksaku untuk menjalani sesuatu yang tak kusuka. Aku harus masuk FE karena semua kakakku adalah Sarjana Ekonomi. Sementara aku minat sekali di bidang seni. Aku ingin belajar Design. Tapi tak direstui. Akhirnya aku dipaksa mengambil D3 juga. Di bidang komunikasi. 2 hal yang membuatku gila. Yang pertama adalah aku sudah membuang waktuku setahun dan kini aku mengambil D3, kenapa tak bareng dengan teman2 seangkatanku saja?? kemudian hal kedua adalah bidang komunikasi. Aku ini pemalu dan tak bisa menghadapi orang banyak apalagi harus berbicara depan orang banyak. I was crying in my first class. Tapi Rani selalu mendukungku. Aku terus berusaha. Sampai akhirnya nilai Public Speaking ku A sempurna aku yakin mampu menaklukkan bidang komunikasi ini.

Aku mencari pelarian kesenangan aku. Yaitu musik. Aku ikut Marching Band. Aku jadi gila karenanya. Dunia ini mencuci otakku. Aku menemukan orang-orang yang lebih asik dari bersama Rani. Orang-orang yang jago main musik. Aku dibuat menjadi gila karena musik. Kuhabiskan banyak waktuku di sana. Kebersamaan yang ketergantungan, begitu aku mendeskripsikannya sekarang. Aku jadi jarang bertemu dengan Rani. Karena itu mungkin dia marah padaku. Baru sekali itu dia tak mendukung apa yang kulakukan. Dia tak pernah sekalipun menonton aku bermain marching band. Aku tahu dia marah padaku. Ditambah lagi saat dia wisuda, aku tak menghadirinya. Karena apa? Karena aku sedang latihan Marching Band. Walaupun kini aku sangat menyesalinya, aku tak bisa memperbaikinya. Walau kini aku tak ikut Marching Band lagi, aku tak bisa memutar kembali waktu. Aku salah. Aku merasa sangat bersalah.

Aku marah padanya seingatku baru sekali. Soal kisah cintaku.
"Ran, gw nyesel deh putus sama ***** dulu. Lo ga mau bantuin gw balikan lagi? Kayanya cuma dia yang bisa cocok sama gw."

"Enggak lah. Asal tahu aja ya Mal, dulu abis kalian putus dia juga nyeselll banget dan ngerasa bersalah karena udah mutusin lo. Sampe pingin ngajak balikan lagi. Tapi gw bilang aja ga usah, Amalianya udah suka sama cowo lain. Hehee.."

Itu kejadiannya udah 6 tahun setelah putus. Gila, itu aja yang gw marah banget. Tapi yang gw sadari sekarang adalah hal itu bukan apa-apa dibanding keegoisan gw ninggalin dia demi Marching Band. Gw emang jahat sama lo Ran.

Walau akhirnya kita masih sesekali ketemu, kita masih bisa nyebutnya sebagai Quality Time. Janji namatin ketujuh film Harry Potter di bioskop pun punah karena dalam perjalannya kita punya teman-teman baik lain. But, it's fine. Kita tetap sahabat. Begitu kata Rani.

Kini aku dan Rani sudah sibuk dengan dunia kerja. Terakhir kudengar cerita baik darinya adalah dia berpacaran lagi dengan mantannya waktu SMA. Aku sangat bahagia... Sungguh bahagia. Melihat dia ngepost di social media soal pria itu, bagaimana pria itu membahagiakannya. 

Akhirnya Allah membalasku. Aku sulit bertemu Rani. Setiap weekend dia selalu jalan dengan pacarnya dan keluarga pacarnya. Setiap weekdays dia tak bisa dihubungi karena sibuk kerja. Saat aku ingin curhat dengannya dia selalu mengatakan sedang sibuk sekali, tak ada waktu. Saat aku mulai menangis, dia bilang aku jangan cengeng dan harus jadi dewasa. Padahal aku menangis bukan karena merengek seperti anak kecil, tapi aku merindukan pengertian dan kebersamaan dengannya. Saat aku bilang padanya bahwa dia kini terlalu banyak menghabiskan waktu dengan pacarnya, dia berkata:

"Mal, dulu yang lo lakuin pas MB apa? Emang lo punya waktu buat gw? Enggak pernah kan. Sekarang gw baru pacaran berapa bulan lo udah ngomong kaya gini? Gw juga berhak bahagia kali. Kita temenan udah belasan tahun. Boleh dong gw punya kehidupan baru."

Kali itu aku benar-benar menangis. Bahkan menangis lagi ketika mengetik kalimat barusan. Aku memang jahat. Menyisakan dendam yang teramat dalam pada dirinya.

Akhirnya dia mulai menghilang dari hidupku. Tak kontak beberapa bulan. Ulang tahun hanya mengucapkan "Selamat ulang tahun Mal!". Tak ada lagi telepon berdering. Tak ada lagi kabar bahagia yang dia beritahukan padaku sebagai orang pertama, tak ada lagi kabar sedih yang dia ungkapkan, kemudian dia tak hadir untuk silaturahmi saat lebaran, dan di reuni SD dia bahkan mengolok2ku depan teman lainnya dan tidak menggubris kehadiranku. She has no respect of me anymore....

Aku sedih. Ya, aku sedih. ini memang salahku sendiri. Aku terjerumus dalam dunia yang telah merusakku. Merubahku jadi orang yang jahat pada orang yang sangat sayang padaku. Begitupun keluargaku. 

Kesedihanku masih suka terasa saat aku sedang merasa sangat bahagia, tapi tak ada Rani yang bisa aku ceritakan seperti masa-masa dulu. Saat aku memberitahukan segala hal pada dirinya. Saat dia selalu jadi orang pertama yang mengetahui apapun. Begitu juga denganku. Bayangan masa kecil kami yang sedang tertawa bersama saat SD, SMP dan SMA terus berputar dalam kepalaku. Dan sekali lagi, air mata ini mengalir....

Banyak sekali hikmah yang kuambil dari kejadian ini. Yang jelas, walaupun aku pernah se salah itu, tapi aku punya hak untuk memperbaikinya. Kini aku sudah hidup jauh lebih baik tanpa hadirnya. Walau kadang kumerindunya, aku hanya bisa mendoakannya. Aku sudah mengikhlaskan kepergiannya. Semua hikmah yang kudapat, sudah aku bungkus dalam satu tekad kuat untuk bertobat di jalan Allah. Kini aku selalu bersyukur dan mendoakannya, saat kulihat senyum di foto yang dia post. Foto dirinya, foto dia dan calon suaminya, foto dia dan keluarganya, foto dia dengan sahabat barunya. :)

Dia pernah menjadi sahabat terbaikku. Rani. 

Terima kasih, Ran.

Melindungi Kebahagiaan

Pernahkah kau mengalami hal seperti ini?

- Memejamkan mata lalu melihat seseorang yang membuatmu tersenyum
- Kemudian kau menyadari bahwa kehadirannya telah berpengaruh banyak dalam hidupmu
- Dia yang selalu ada bersamamu dalam kurung waktu tertentu
- Kau teringat apa saja yang telah terjadi di antara kalian
- Kau tersenyum bagaimana semua kejadian itu telah membawa hikmah dalam hidupmu
- Merasa begitu indah dan ingin melukiskannya dalam kata-kata
- Namun saat kau mulai menulis kau bingung untuk memulainya dari mana...

Haha.. hal itulah yang sudah seringkali terjadi padaku. 

Mungkin hal inilah yang didefinisikan sebagai berikut:

Semakin dewasa seseorang, semakin ia tak ingin ia mengumbar sesuatu yang ia miliki. Bukan karena tak mensyukurinya atau tak senang memilikinya, melainkan karena hal tersebut terlalu berharga untuk diberitahukan ke orang banyak. Pada dasarnya ia hanya ingin melindungi kebahagiaan itu, agar tak ada orang lain yang mengusiknya dengan hal-hal yang bisa menyakiti kebahagiaan itu. Akan tiba saatnya nanti saat semua dunia tahu kebahagiaan yang dimilikinya. 

Dan lebih menyenangkannya lagi, tidak hanya terjadi pada diriku saja. :)

Menulis, Membuatku Tetap Bernafas



Pagi ini aku membuka mata, teringat lagi bayangan wajah itu. Wajah yang menyejukkanku selama ini. Seketika itu juga aku tersenyum dan kembali tenggelam dalam memeluk guling yang kian erat. Senyumkupun mulai merekah.

Orang itu, pikirku. Ada saja hal yang membuatku ingin larut dalam sebuah tulisan mengenai dirinya. Banyak hal yang telah terjadi selama hampir dua tahun ini dan merubah kehidupanku.

Berbicara tentang tulisan, tiba-tiba aku teringat ada seseorang yang bertanya padaku kenapa aku harus menulis. Kemudian aku berpikir, kenapa aku harus jawab orang itu ya? Kemudian aku tertawa. Ada-ada saja memang. Menjadi selektif akan banyak hal merupakan salah satu hal yang dia ajarkan padaku. Dia di sini bukanlah yang bertanya kenapa aku harus menulis, melainkan dia yang kehadirannya ingin sekali kutulis dalam setiap lembaran kisah hidupku. Lalu apakah DIA jawaban kenapa aku harus menulis? Jika iya, mungkin sebaiknya aku berhenti sampai di sini.

Kemudian aku beranjak dari tempat tidurku. Biasanya aku melanjutkan pagi dengan melakukan jogging. Tapi tidak untuk kali ini, aku memilih menikmati nyamannya kamarku di pagi hari. Bukan karena mager, tapi ini sungguh pagi yang luar biasa di mana paparan pemikiran akan hal yang ingin kulakukan tersaji dalam visiku. Aku mulai membuka laptopku dan mulai mengetik.

Rasanya seperti menghirup udara pagi yang sejuk. Aku bernafas. Setiap jari yang kujentikkan pada hamparan huruf di keyboard ini kian memberikanku oksigen untuk berimajinasi akan kenyataan. Apa itu berimajinasi akan kenyataan? Aku mendefinisikannya sebagai suatu keadaan di mana aku sedang memikirkan kembali apa yang telah terjadi dalam hidupku, mengambil semua hikmah di balik setiap peristiwa baik yang buruk sekalipun, lalu aku hadir kembali di waktu saat ini dan mensyukuri semua hal tersebut sambil penuh keyakinan tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini, untuk memperbaiki diri, mengejar cita-cita dan bagaimana menjadi orang yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Semua hal tersebut dilakukan pada saat yang bersamaan. Itulah definisiku akan “berimajinasi akan kenyataan”. Keren ya? Iya, aku memang keren.

Kadang saat aku melangkah sendiri di keramaian, aku bisa melihat orang lain. Justru saat aku ada di tempat asing, aku bisa melihat orang lain sekaligus melihat diriku sendiri. Misalkan saja, ada suatu hari di mana aku pergi ke suatu tempat menggunakan kendaraan umum. Dalam sehari-hari saat aku biasa menggunakan kendaraan pribadi, tapi hari itu aku menuju suatu tempat menggunakan jasa angkutan kereta. Kulangkahkan kakiku ke luar rumah dengan memohon perlindunganNya. Setiap langkah yang kujalani, membawa aku pada pemandangan baru, yang mungkin sering kali luput. Saat menunggu angkutan umum menuju stasiun aku merasa kepanasan di bawah terik matahari. Namun saat aku ingin mengeluh, aku teringat bagaimana dengan mereka yang setiap hari bekerja dengan peluh keringat di bawah terik matahari? Apa mereka mengeluh? Tidak. Mereka menyimpannya dalam doa. Saat panas itu kian membakar kulitku, aku tersenyum. Bukankah ini cara Allah mengingatkan umat manusia bahwa matahari yang bersinar terik ini bukanlah apa-apa dibanding dengan api neraka nanti?

Akhirnya angkutan umum ini membawaku ke stasiun kereta terdekat dari rumahku. Di perjalanan stasiun menuju peron, aku melewati beceknya pasar dan di sudut kulihat orang yang tertidur di atas kardus kotor. Aku sangat bersyukur bisa tidur nyenyak di kasur empukku dan terbangun nyaman pagi tadi. Bagaimana dengan orang yang tidur di kardus tersebut? Bisa jadi orang itu lebih bersyukur karena dia tidak tidur di kolong jembatan.

Keretapun datang. Cukup ramai yang telah menunggu kereta tersebut hingga memungkinkan sekali terjadinya aksi saling mendorong. Kulihat ibu-ibu itu bisa berubah menjadi sangat kasar demi bisa masuk ke dalam kereta tersebut. Ada beberapa ibu paruh baya yang mulai goyah terdorong oleh mereka yang menyeruak masuk tanpa peduli apakah ada dari mereka menyakiti orang lain. Bahkan untuk berusaha mendorong orang lain saja aku tidak, aku pasrah. Dan tahukah kamu, bahwa aku sangat bersyukur karena masih memiliki perasaan seperti itu. Karena aku yakin tak semua orang memilikinya. Bisa jadi juga mereka memilikinya, namun tetap tidak peduli. Bagiku tak perlu memaksa. Hal itu memang yang diajarkan Allah, yaitu tidak menyakiti orang lain dalam usaha mencapai tujuan kita. Mereka yang menaruh keyakinan pada Allah takkan takut untuk bersabar. Tiba-tiba aku teringat sebuah momen saat aku di tanah suci dan ingin sekali mencium hajar aswad. Aku sudah di depan Multazam selama tiga jam, namun begitu penuh dan sesaknya aku yakin akupun tak bergeser mendekat ke arah hajar aswad. Banyak mereka yang mendekat ke arah hajar aswad. Dengan cara apa? Mendorong, menginjak, menyingkirkan orang lain dengan sikut mereka. Kulihat darah di lantai. Sungguh, jika aku tak menaruh keyakinanku akan ajaran Allah untuk tidak menyakiti orang lain, aku pasti sudah melakukan hal yang sama.

Lamunanku itu buyar saat aku mulai memperhatikan orang lain di kereta. Ada mereka yang ingin berangkat ke kantor, ada mereka yang ingin ke sekolah, ada yang mungkin baru saja pulang dari pasar. Pikiranku melayang pada mereka, memikirkan begitu banyak hal yang Allah tunjukkan padaku hanya untuk membuatku sadar dan terus bersyukur.  Kadang Allah juga menunjukkan pada manusia melalui orang lain untuk “jangan pernah seperti itu.”

Derap langkahku mengiringi semua pikiran dan akal sehatku bahwa begitu banyak hal yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata di hadapan orang banyak. Begitu banyak cerita, baik maupun buruk, yang terjadi dalam hidupku dan mungkin dalam hidup orang lain. Cerita-cerita tersebut bisa menjadi inspirasi bagi orang lain untuk belajar dan bersyukur.

Dari kecil, aku sangat senang menulis buku diary. Apa saja yang terjadi dalam hidupku hari itu kutuliskan semua. Sampai bangku SMA aku masih suka menulis. Kisahnya mulai beragam. Kisah cinta, kisah kelelahan latihan basket, kisah pertengkarang dengan orang tua di rumah, kisah cita-cita. Banyak sekali. Bahkan saat SMP, aku pernah menulis di buku tulis kosong sebuah cerita cinta. Sebuah cerita cinta yang menurutku harusnya semanis itu, konfliknya harusnya ada seperti itu, sampai akhirnya bisa seperti ini dan itu. Selama 3 tahun sepanjang SMP aku telah menulis cerita bersambung itu sebanyak lebih dari 30 buku tulis dan hanya kuperbolehkan seorang sahabat terbaikku bernama Rani yang boleh membacanya. Tahukah kalian bahwa saat umurku 25 tahun ini dan aku menonton berbagai kisah FTV mulai dari kisah yang masuk akal sampai tidak dan aku berpikir, “Hahaa.. basi ah. Aku udah pernah kebayang semua ini dan aku tulis dulu!” Mau si cewek buta, cewek kaya dan miskin, tidak direstui orang tua, pindah agama, hamil di luar nikah, suka sama guru, hilang ingatan, mendadak jadi artis, cinta sama sahabat, dan lain-lain. Keren ya aku? Iya aku keren.

Sayangnya hobiku itu tak hanya menulis. Jadi sering sekali ketika beranjak dewasa dan mulai menulis lagi aku sangat mudah terdistrak. Misalnya sedang menulis, karena pegal jadi aku bermain gitar. Atau ketika sudah masuk chapter dua, aku istirahat dengan jalan-jalan. Lalu lupa dan malas. Tapi satu hal yang pasti, saat aku masih menulis, walaupun sedikit, itu berarti aku masih bernafas.

Dan saat ini aku yakin, jika aku bisa menulis lebih banyak lagi, aku tidak hanya tetap bernafas, tapi juga bisa memberikan nafas bagi kehidupan orang lain. Melalui banyak kisah yang patut kita syukuri, mulai dari hal kecil sampai hal besar. Luar biasa apa yang telah diajarkan oleh kehidupan. Aku ingin mengingatkan mereka yang lupa akan banyak hal dalam hidup mereka sendiri melalui tulisanku. Itulah kenapa aku harus menulis dan terus menulis. 

Tuesday, July 1, 2014

Hidayah Hijabku


Sungguh aku amat merindukan langkahku hadir di sana. Lantai yang begitu dingin, tak peduli kala siang maupun malam. Hamparan langit yang terbentang luas di atasnya. Bagai payung cerah yang menyinari, namun tetap melindungi kita dari silaunya senyum sang matahari. Sekeliling kulihat ratusan ribu atau mungkin lebih manusia, yang di dalam hatinya sama-sama mengingat satu hal, Allah. Semua gumam akan zikir dan doa yang tak pernah putus, seakan memelukku dalam balutan kehangatan.

Kutatap rumahMu nan megah. Hatiku bergetar sejak pertama kali mengingatnya. Ratusan ribu kilometer kutempuh untuk hadir di sana. Semenjak aku kecil, aku selalu membayangkannya dalam sholatku. Menjaga khusyukku akan kiblatku. Namun akhirnya aku bisa berdiri di dalam rumahMu, menatap Ka’bah yang menjulang. Begitu besarnya dia, hingga aku merasa makhluk paling kerdil yang telah ada.

Banyak orang telah berlinang air mata, menciumi Ka’bah. Bagiku semua itu sangat mengharukan. Kupimpin langkahku untuk kian dekat ke arahnya. Sungguh bangunan yang wangi, bersih, meskipun jutaan orang telah menyentuhnya. Ka’bah itu tak kemana-mana. Namun kamilah para manusia yang mengililinginya. Dengan segala macam zikir yang kami ucapkan, segala doa dan harapan yang kami bacakan di tiap sudutnya, kami benar-benar bagai larut dalam adukan kasih ilahi.

Kian masuk ke dalam lingkaran kecilnya, semakin aku merasa penuh desakan. Kuingat bahwa tak boleh bagi kita menggunakan kekerasan demi mencoba menyentuhnya. Apalagi menyakiti orang lain demi mencium hajar aswad, berdoa di Multazam, sholat di hijr ismail. Jika Allah menghendaki kita bisa dekat dan meraihnya, maka tiada satupun yang akan bisa menghalanginya.

Sudah hampir dua jam aku berdiri di depan Multazam. Sambil terus berzikir dan memohon kepada Allah agar diberi kemudahan dan kesempatan bisa lebih dekat ke Multazam dan mencium Hajar Aswad. Tak ada yang bergerak. Tembok Ka’bah itu masih sekitar dua meter dari gapaian tanganku. Di sekitarku berdiri pria-pria yang berasal dari Negara lain. Entah dari mana saja, yang jelas tinggi badanku hanya seketiak mereka. Mereka mulai saling mendorong. Kurasa beberapa dari mereka telah habis kesabarannya. Luar biasa diriku terguncang. Namun aku tetap berdoa pada Allah agar diberi kekuatan untuk masih bisa bertahan di sana.

Mereka yang telah berhasil mencium Hajar Aswad bahkan tak mampu membalikkan badan mereka untuk memberi kesempatan pada yang lainnya. Semua mulai saling mendorong ke arah Multazam dan Hajar Aswad. Aku mulai merasa kehabisan nafas. Dengan kerumunan pria-pria tinggi itu, aku harus menengadahkan kepalaku agar bisa menghirup oksigen.

Kudengar beberapa orang di depanku, termasuk wanita paruh baya, mulai berteriak. Ternyata mereka yang telah berhasil mencium Hajar Aswad memilih untuk memanjat ke Ka’bah dan melompat seadanya ke atas hamparan orang-orang yang tak bisa bergerak di sana. Dengan kasar mereka menginjakkan kakinya di kepala kami yang mulai berdesakan di bawah, dan dengan ringannya melangkahkan kakinya di atas kepala atau pundak kami hingga berhasil menjauh dari Hajar Aswad dan Multazam itu. Kami yang berada di bawah tak punya pilihan untuk menghindar. Kami hanya bisa pasrah apabila kepala kami diinjak. Sakit, luar biasa sakit, tapi tak boleh hati ini mengeluh, apalagi hingga mulut ini mengumpat kekesalan.

Kepalaku masih menengadah. Tapi kali ini sudah tak ada lagi oksigen yang bisa kuhirup. Kali itu aku pertama kali merasakan bahwa tak ada udara yang berhasil masuk, walaupun aku telah menarik nafas sekuat tenaga. Aku hampir panik. Aku mulai takut tak bisa bernafas. Rasanya benar-benar seperti tercekik dan tenggelam dalam lautan. Sementara tak bisa beranjak pula dari situ, dan orang-orang semakin liar dan ganas. Tak peduli apakah di sana ada wanita atau bahkan orang tua.

Aku tidak sendiri. Ada abang tertuaku yang bersamaku di sebelahku. Pun dia mungkin merasakan hal yang sama denganku, namun aku pikir pastilah dia lebih kuat dariku, karena dia seorang laki-laki. Dia tak berusaha memelukku atau melakukan tindakan yang benar-benar menjagaku. Dia hanya selalu membisikkanku untuk selalu berdoa pada Allah agar bisa terus bertahan dan diberi kesempatan.

Kurasa sudah dua jam akhirnya kami di sana. Masih dalam keadaan tak bergerak dan sesekali terinjak. Usai subuh kami masih berdiri dalam kegelapan langit, hingga kini langit telah memiliki rona merah yang menyeruak dalam langit biru yang indah.

Nampaknya abangku mulai melihat aku kelelahan. Hingga akhirnya dia berkata mungkin sebaiknya aku mencoba di lain kesempatan. Akupun langsung merasa kesedihan menyelimutiku. Bagaimana tidak, hari itu adalah hari terakhir aku berada di tanah suci. Selain hari itu, tak ada lagi kesempatan bagiku dalam periode ini. Berulang kali abangku meyakinkanku bahwa Allah akan memberikan rezeki padaku untuk kembali ke sana. Mungkin dengan suamiku kelak. Tapi entah kenapa rasanya aku masih ingin berusaha, walaupun nafasku telah putus-putus.

Bukan berarti aku tak percaya akan rezeki yang didatangkan oleh Allah. Namun, apakah kita tahu bahwa mungkin Allah akan mendatangkan ajal terlebih dahulu untuk menjemput kita? Apakah saat kita diberi kesempatan ke sana lagi kita masih dalam keadaan sebugar sekarang? Tak ada yang tahu. Kemudian kukatakan pada abangku bahwa aku masih ingin berusaha. Dan aku memohon padanya untuk tidak menggiringku ke luar dari kerumunan itu.

Dan sekali lagi kepalaku terinjak. Kali ini benar-benar kurasakan sakit. Mungkin karena ditambah sudah kekurangan oksigen juga. Badanku mulai lemas. Pikiranku mulai sesekali melayang ke pikiran yang tak seharusnya.
Entah sudah berapa menit pikiranku kosong, hingga seorang pria bertinggi (aku sangat yakin) minimal dua meter itu menyapa abangku.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. You want to kiss Hajr Aswad?” tanya abangku.
“You want to kiss Hajr Aswad?” dia balik bertanya.
“I asked you.”
“I asked you.”
Entah berapa lama mereka saling bertanya beberapa pertanyaan, namun yang kudengar hanyalah pria tinggi itu selalu mengulang pertanyaan abangku. Aku lelah mendengar mereka. Aku tak mampu lagi menengadahkan kepalaku, akhirnya aku menunduk. Tak peduli sudah tak ada oksigen yang bisa kuhirup, aku mulai pasrah. Aku mulai berpikir bahwa tak mengapa aku meninggal di sini. Luar biasa akan disolatkan oleh ratusan ribu orang di sini. Semua akan mendoakanku. Aku mungkin akan masuk Surga. Ya, solat di sini kan pahala seratus ribu kali lipat. Pandanganku mulai mengabur. Kulihat di bawah ada darah berceceran. Entah milik siapa. Mungkin orang yang terinjak tadi. Bagaimana jika itu darah ibu tua tadi? Atau darah kakek tadi? Bagaimana keadaan mereka sekarang? Di mana mereka? Aku sangat pasrah.

Kukatakan dalam hati ini, ya Allah jika Kau tak memberi kesempatan padaku kali ini untuk mencium Hajar Aswad, tidak apa. Kumohon berikanlah aku rezeki untuk kembali lagi ke rumahMu ini dalam keadaan sehat walafiat. Namun jika Kau ingin memanggilku saat ini kehadapanMu, aku telah siap ya Allah. Walaupun diri ini mungkin pernah bergelimang dosa, aku yakin Kau akan mengampuni segala khilafku selama di dunia ini dan lancarkanlah langkahku menuju hadapanMu. Ya Allah, jika Kau masih mengizinkan aku hidup sekali lagi, aku berjanji akan selalu berusaha jadi manusia yang bertakwa. Aku akan mengawali dengan menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslimah yaitu menetapkan jiwa ragaku untuk mengenakan hijab. Aamiin.
Aku lupa apakah kemudian aku masih bernafas. Sampai pria tinggi dengan gamis sangat bersih berwarna putih dan kulitnya yang sangat hitam itu berkata,
“Let me help you and your wife.” Katanya pada abangku.
Kemudian abangku menolaknya. Aku tahu abangku berkata no dan menggelengkan kepalanya. Aku paham pasti abangku sangat khawatir jika pria ini akan melakukan kekerasan untuk menyingkirkan orang-orang di sekitarnya demi membuka jalan menuju Hajar Aswad kepadaku.
“Follow me.” Ucap pria itu.
Tanpa sempat mengucapkan kata-kata lagi, pria itu seolah berkata “permisi” pada orang-orang yang sejak dua jam tadi memenuhi depan Hajar Aswad dan Multazam itu. Tiba-tiba kulihat jalan terbuka dengan lebarnya menuju Hajar Aswad. Tanpa ada satu orangpun. Aku bisa melihat lantai bersih Masjidil Haram, yang awalnya tadi kulihat ada percikan darah.  Tanpa sadar aku bernafas kembali. Dalam sepersekian detik, semua berjalan bergitu cepat! Aku bisa melihat jalan itu terbuka, Hajar Aswad berdiri dengan lapangnya, pria itu berkata “Please.” sambil mengarahkan untuk segera masuk ke jalan terbuka itu, hingga aku tersadar begitu abangku berteriak, “SEKARANG!! BURUAN!”.
Aku yang kaget langsung melangkah masuk ke dalam jalan itu, seolah orang-orang di sekitarnya membeku. Dalam hitungan dua detik aku benar-benar berdiri di depan Hajar Aswad. Aku hampir termenung lagi tak percaya. Kutengok pria besar itu di tempatnya, namun dia tak lagi di sana. Entah ke mana dia pergi. Cepat sekali.
“CIUM!!” teriak abangku.
Akhirnya kumasukkan kepalaku ke dalam Hajar Aswad dan aku menciumnya. Dua kali kumasukkan. Begitu dingin, wangi, aku bisa merasakan bibirku menyentuh pecahan batu dari Surga itu. Luar biasa.
Keberhasilan yang indah itu hanya sampai di situ saja. Kedua kalinya kukeluarkan kepalaku dari sana, aku bisa merasakan seseorang menarik belakang kerah bajuku dengan kerasnya. Aku bagai tercekik. Dan kali ini aku benar-benar tak merasakan kakiku menginjak tanah. Aku melayang. Ditarik oleh banyak orang untuk menjauhi Hajar Aswad karena mereka juga ingin menciumnya. Mereka tak peduli akan nyawaku. Jika kali itu aku benar jatuh ke tanah, habislah sudah aku terinjak oleh mereka tanpa ada kesempatan untuk bangkit berdiri. Aku berteriak-teriak. Aku tak merasa abangku ada di dekatku. Mungkin dia juga terpisah karena kerusuhan orang-orang tersebut. Dan aku masih melayang. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak jatuh. Tiba-tiba aku takut Allah mengabulkan doaku untuk kembali kepadaNya. Tentu saja dia akan mengabulkannya! Aku telah berdoa di Multazam. Dia baru saja mengabulkan doaku mencium Hajar Aswad, dan mungkin kali ini Dia akan mengabulkan doaku yang lain tadi, yaitu kembali padaNya.
Aku terseret melayang cukup jauh dan memang menjauhi kerumunan depan Hajar Aswad itu. Aku merasakan kali ini pasti jatuh ke lantai. Namun untungnya lantai yang sudah agak jauh dari kepadatan itu. Akhirnya abangku menemukanku dan menarikku menjauh. Saat itulah aku menangis sejadi-jadinya.
Sungguh pengalaman antara hidup dan mati yang luar biasa. Dalam beberapa jam terakhir aku telah diberikan hidayah oleh Allah. Di hari terakhirku di kota Mekkah. Usai melaksanakan ibadah haji wada’, kemudian berdoa di Multazam, mencium Hajar Aswad. Diberi kesempatan merasakan bagaimana jika kematian datang menjemput, bagaimana rasa sayang Allah tercurah kepada kita para umat Islam. Sungguh luar biasa.
Tak ada lagi yang bisa kukatakan selain bersujud syukur dan meyakinkan diriku bahwa inilah saatnya Allah memberikan hidayahNya untukku untuk menjalankan kewajiban seorang muslimah, yaitu berhijab. Insha Allah selalu istiqomah dan bisa menjadi benteng untuk diri ini. Aamiin..

Bagi kalian yang belum berhijab, mungkin kalian masih menunggu hidayah dari Allah. Tapi sadarkah kalian bahwa kalianpun juga harus berusaha dalam menjemput hidayah tersebut. Seberapa kuat kita berdoa agar hidayah tersebut lekas datang? Seberapa lemah kita pada godaan dunia bagi kaum wanita? Kapan kita akan sadar bahwa berhijab adalah kewajiban. Bukan sesuatu yang okelah-nanti-juga-gapapa.
Banyak yang memutuskan untuk mengenakannya setelah menjadi istri dan ibu untuk tiga orang anak. Apakah ini belum terlambat? Justru di masa muda ini lah nafsu bergitu gencar menggoda iman manusia. Menggunakan hijab memang tak menjamin kau akan suci 100% dari dosa, namun setidaknya hijab akan menjadi benteng dirimu untuk selalu melakukan hal baik yang diridhoi Allah.
Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah swt. dan semoga sedikit cerita ini bisa menginspirasi kalian yang belum tersadar akan kewajiban berhijab ini. Aamiin…… )


Friday, May 16, 2014

Manis...

Sepanjang perjalanan disewotin terus
Dibilang ngeselin
Dianggep ga jelas
Kalau tertangkap mata lagi ngeliatin dia kemudian diketusin, "Apa sih??!"

Tapi dia rela ninggalin keinginannya makan sesuatu yang dia mau demi nemenin gw makan sushi.
Lagi dan lagi..
Bosen dan bosen..

Berkali-kali makan sushi, dia bilang bosen, tapi masih mau nemenin.
Bahkan pernah terlihat gw sedang tidak memiliki nafsu makan, dia bilang "yauda di mall ini ada sushi nya kok.."

Menurut gw itu manis...

Walau dia ga berselera, tapi ngeliat gw bernafsu makan sushi, bahkan sampai ngasih porsi sushi dia buat gw juga.. hehehe.
Dan begitu piring-piring kosong itu bergeletakan dia bilang, "aku seneng deh liat kamu ngabisin semua ini."

Meski dalam hati gw menjawab, "aku juga seneng kalo ngabisin sisa hidup aku sama kamu."

Menurut gw itu manis...

Dia itu orang yang selalu bilang kesel dan sebel dan benci sama gw.
Tapi ngeliat kebiasaan baru dia yaitu kunci pintu mobil.. itu seneng banget rasanya.
Inget banget dulu selalu sewot "Kenapa sih harus dikunci?? Gausa lah.. Penting banget! Emang ada apa sih??"
Kemudian semua alasan yang gw utarain pelan-pelan selalu dibantah, tapi ternyata dia tak pernah sedikitpun melewatkan perkataan gw..

Itu juga manis...

Anak Gendut <3 p="">

Tuesday, January 21, 2014

sebuah harapan

Sebuah harapan ini terlahir setelah aku mengenal sosokmu
Sosok yang begitu penuh rahasia

Aku ingin bercerita di tempat tak ada orang lain melihat
Aku ingin menjadi seorang istri
yang sholehah
yang patuh pada sang suami
yang sederhana
tidak kerja di kantor
hanya mengurus rumah tangga ini

Ingin memiliki suami yang memahami hal tersebut dengan tidak dangkal
mungkin jarang ditemukan saat ini seseorang yang ingin memiliki istri seperti itu.
namun aku ingin dimiliki pria seperti itu.
yang tetap mau menafkahi keluarga kami kelak
Walau aku tak ikut mencari nafkah di kantor.
tak menjadi wanita karir yang keren
hanya ibu rumahan yang pandai mengurus anak

bagaimana harus kukatakan...
Jika aku jujur akan hal ini, apakah ada pria yang menginginkan sisa hidupnya bersamaku?
Bukan maksudku untuk membohongi diri sendiri dan orang lain.
kini aku merasa serba salah.

saat apapun yang kukatakan tak kau percaya
bagaimana aku bisa ungkapkan semua?
aku kosongkan hatiku dari segala penyakit hati
namun kau tetap memojokkan aku dalam kesalahan
entah karena kau terlalu takut itu terjadi, trauma atau mengujiku.

kau tak perlu bersikeras seperti itu.
aku ini sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana
Hingga kadang seolah mencari kerumitan hanya untuk membuat aku sadar
bahwa aku masih hidup di dunia
Bukan menghuni surga.

ya Allah.... semoga kelak bisa bertemu pria itu
dan semoga pria itu benar adalah kamu. 

Saturday, August 24, 2013

kisah masa lalu

memang kita tak boleh menilai seseorang dari masa lalunya.
namun, beberapa hari ini aku terinspirasi dari kisah masa lalu seseorang yang baru terungkap secara tidak sengaja.
lama mengenalnya sekitar hampir 7 bulan, penilaian akan dirinya sudah kumiliki.
lambat laun aku terguncang ke sana ke mari melihat sosoknya.
seiring berjalannya waktu aku paham apa yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini.
tak melulu hal yang buruk di masa lalu,
tapi ketika kita melihat seseorang yang belajar dari kesalahan di masa lalunya
bagiku itu hal yang hebat.
berdiri tegak menantang hidup di masa sekarang
dengan landasan masa lalu yang membuat seperi saat ini.
sangat inspiratif.

cerita 3


Tidak ada lagi yang bisa kukatakan saat kau pergi. Aku tahu ke mana kau akan pergi meninggalkanku. Rasanya tak kuat membalikkan tubuh ini untuk tak melihatmu lagi. Lebih memilih berdiri terpaku melihat kau mengabur dalam pandangan di depanku.

Aku tak pernah bisa memahami alasan ke mana langkahmu, namun satu hal yang pasti adalah kau telah merencanakannya. Aku selalu mendoakanmu. Jangan sampai kesepian dan kesedihan ini menyentuh hidupmu. Biarlah aku yang merasakan semua itu.

Jangan sampai kita kehilangan iman kita hanya karena terlalu banyak bermimpi. Hingga kau memperlakukan aku dengan cara seperti ini, kini kusadari bahwa kau datang memang membawa kejutan. Dan membuat hidupku terombang-ambing.

Saat-saat seperti ini, kuingin pulang. Kuingin kau tahu, kubergetar merindukanmu. Hingga saat bahagia menjelang, Namun ku tahu saat seperti ini air mata bukanlah segalanya.

cerita 2


Langit di luar begitu malu menampakkan warnanya. Para awan sedang bergerumul dalam kesedihan, namun masih sekuat tenaga tak menampakkan air mata. Matahari merasa bersalah akan sebuah langit yang kelabu. Namun tatkala sang pelangi menjanjikan indahnya warna-warni baru setelah segala air mata itu terusap.

Pagi ini aku terbangun dengan kosong. Ada relung hati yang merasa nelangsa. Hampa yang akan datang, namun belum siap aku menyambutnya. Ada apa lagi dengan dirimu, Alia? Begitu mudah kau selalu dijatuhkan oleh hatimu sendiri. Kebodohan apa lagi yang kau biarkan merasuki hidupmu?

Apa aku terlalu lupa bahwa Allah lah yang telah menyentuh kehidupanku, bukan seseorang itu. Memang benar adanya Allah mengirimkan dia untuk menyentuh hidupku. Mengingatkanku untuk selalu lebih mengingat Allah saat bersamanya, menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, menapaki hidup yang lebih dipenuhi oleh rasa syukur yang tak henti. Seakan semuanya sangat indah dan sempurna. Namun, kini ada satu hal yang aku sadari bahwa Allah ingin aku menyadarinya sendiri, tanpa harus Allah lah yang mengingatkanku lagi. Bahwa sosok ini tak hanya menggenggam tanganku menuju kebaikan, melainkan dia juga menyiapkanku untuk keterpurukan. Bukan dengan sengaja dia melakukan semua itu, namun sayang sekali aku tak terlalu cepat dalam menyadari semua itu hingga sampai saat aku terjatuh lagi seperti ini.

Berapa kali dia mencoba menghindariku, seolah diri ini seseorang yang menjijikkan. Berapa kali dia berkata kasar hanya untuk menyadarkan aku bahwa dia tak pantas untukku. Berapa kali pula dia mengacuhkan segala bentuk perhatian dan kasih sayangku yang sebenarnya dia ingin menunjukkan bahwa perhatian dan kasih sayangku tak pantas untuk dirinya. Aku terlalu lama menyadarinya. Aku terus saja menganggap bahwa semua berjalan baik-baik saja.

Tak kusangka semua momen dengan segala pikiran negatif yang membuat trauma kenangan itu membuatku kini terlalu bodoh dengan segala pikiran (terlalu) positif. Tak pernah aku sangka akan seperti ini. Tapi biar bagaimanapun semua alur ini tidak terjadi begitu saja, karena Allah adalah sosok luar biasa yang telah menciptakannya. Alur ini benar-benar luar biasa. Entah apa lagi yang akan terjadi di depannya. Kukembalikan semua ini kepadamu ya Allah..

cerita 1


Suatu hari yang terasa begitu dirindukan. Bertemu seseorang yang sepak terjangnya dalam kehidupan telah terlalu hebat. Mengenali sebuah diri bagai mengenali diri sendiri. Lama tak bertemu dengannya. Dan kali ini, saat waktu tak sengaja mempertemukan, ada rindu yang teramat membuncah hingga air mata tak hentinya menyapu sepasang pipi ini.

Sekali lagi dia mencoba menolongku yang hampir terpuruk, dalam perasaan yang lebih dalam dari sebuah jurang. Berkali-kali dalam bertahun-tahun sosok ini mengabdikan hatinya pada orang-orang yang tak seharusnya layak mendapatkan kasih sayangnya. Selalu mencoba tetap tegar berdiri walau hujaman dan sayatan dengan jelas membungkan kebahagiaan. Masih saja menyangkal, masih saja terlalu positif dalam pikirannya, dan gadis ini terus termangu dalam kesendirian yang tak pantas.

Kali ini tamparannya lebih hebat. Sosok yang menjadi objek dianggapnya terlalu baik, bahkan saat sang cerminan diri dengan jelas mengatakan tidak. Apa lagi yang diharapkan gadis ini dari seseorang yang dengan jelas tak pernah menyadari kehadirannya? Seseorang yang dengan mudahnya melontarkan kata-kata kasar dan tak pantas kepada dirinya yang sepatutnya diberikan ucapan lembut dan perangai sopan. Seseorang yang mengintimidasi untuk memotivasi namun tak pernah sedikitpun mencoba membuka hati dan pikirannya untuk sama-sama belajar.

Mau sampai kapan kau begini? Kau begitu layak untuk mendapatkan yang lebih baik dan pantas untuk menerima rasa kasih sayangmu. Dia berkata memang diri ini begitu sempurna dalam menyayangi seseorang, hingga terkadang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa kehadirannya tak lebih dari sebuah gangguan dalam hidup seseorang. Dan lupa menyadari bahwa masih ada yang menanti kehadiran ini. Dengan penuh makna. Mengawali dengan sebuah pengertian, kemudian bisa menerima setulus hati dan menyesuaikan untuk tetap berjalan di jalur yang sama.

Kali ini hampir habis air mata berharga yang terkumpul. Terlalu banyak yang terbuang sia-sia. Tak perlu menyiapkan diri untuk kehilangan orang seperti dia, melainkan dialah yang harus menyiapkan diri untuk menyadari bahwa dia telah kehilangan orang sepertiku.

Yang mensyukuri kehadirannya yang telah menyentuh hidupku. Yang selalu mengingat Allah setiap kali aku mengingat dirinya. Yang mencoba menerima dia dengan segala keburukannya yang tak bisa kulihat. Yang menyesuaikan hidupku dengan hidupnya, agar kelak menjadi pantas bersamanya. 

Saturday, August 17, 2013

buyar

Banyak yang mau di tulis...

tapi entah kenapa akhir-akhir ini begitu mudahnya buyar saat kutatap halaman kosong ini.

Wednesday, June 26, 2013

you're all the music i ever need

i can be your jazz song, then
put your steps into a swing, tango, chacha or perhaps doing something in waltz
we're dancing like a movie

i can be your rock song, then
keep you on the groove, on distorsion
grab your hand like i hold sticks tightly
feel your heart like a beat of the drum

i can be your pop song, then
sing together even everyone knows but they can't sing like we did
you know why? because we know how to make a pop song more than just an extraordinary

i can be your hip hop, or you want RnB? or if you need me in rap, don't worry
'cause i have more than a thousand words that can describe your presence in my life
more than eminem did

i can be your dangdut, then
see you laugh feel your hips dancing like nobody cares
put your hands up in the air just to make things right with your thumbs

i can be your music
you play the rhythm
i will do the melody
together we can be a rhythm of love
step together in one symphony
and live together in our own harmony
'cause i know that you're all the music i ever need....

Thursday, May 30, 2013

imajinasi

imajinasi..

hadir bersama hujan yang turun ke muka bumi
pandangan penuh visi ke depan tak terperi
menyapu kisah perlahan satu demi satu
tak bisa dikira ke mana ujungnya

imajinasi yang terlalu diterbangkan ternyata tak terlalu baik
menjadi terlalu kreatif menjadi sebuah momok yang memilukan
berkali-kali kau coba ciptakan sebuah cerita
siapa pula pikirmu, kau ini Tuhan?
mencoba menerka apa yang seharusnya bahkan tak terpikirkan

kini aku merasa berdosa
mengajarkan diri sendiri untuk menelisik terlalu dalam kehidupan
bukan hanya kehidupan akan diri sendiri, tapi juga lainnya

bahkan surga dan neraka ada batasnya
sudah saatnya tak lagi tak tahu batas
jangan berlagak seperti anak kecil yang tak tahu apa itu batas
tahan segala imajinasi yang mencoba menyeruak terlalu dalam
jangan kau biarkan masa demi masa tak bisa terobati lagi

kendalikan dirimu
mungkin saja kau masih tak paham
bahwa sesungguhnya dirimu hanyalah sebuah imajinasi
belaka
atas siapa?

Sunday, May 19, 2013

sholat magrib

udah 19 hari jadi anak rumahan. rasanya kembali ke usia dini. bisa selama itu sama ayah dan ibu di rumah. bisa sesering itu menyapa mereka. dan bisa sholat jamaah bersama mereka. sungguh nikmat yang luar biasa masih ada kehadiran mereka di (hampir) 25 tahun hidup gw.

entah kenapa saat sholat magrib adalah saat yang paling sukses bikin gw mewek terus. please, ini bukan berarti gw masih kaya anak kecil. gw rasa siapapun akan bergetar hatinya bila merasakan kehadiran orang tua mereka yang perlahan membuat sadar, kalo mungkin kita terlalu fokus dan sibuk untuk berkembang dan tumbuh dewasa, dan mungkin terlupa bagi kita bahwa merekapun juga tumbuh menua. 

sholat magrib. ayah jadi imam dan ibu di sebelahku. tak lama kaki ini seakan berpijak pada tempat yang berbeda. flash back ke waktu puluhan tahun lalu. di mana gw masih jadi anak yang "liar". susah banget disuruh pake mukena. bawaannya lari-larian terus. dan setelah akhirnya berhasil dipakein mukena, dipaksa berdiri di antara ibu dan nenek gw, tetep aja anak kecil ini ga bisa diem. sholatnya goyang-goyang mulu. dan selalu mikir kenapa kalo ayah yang jadi imam lamaaaa banget. bacaan suratnya panjang-panjang saat itu. bacanya juga sangat perlahan. 

kalo bulan puasa, bagi anak kecil ini begitu sulitnya melalui sholat tarawih jamaah di rumah. ibaratnya shilat magrib aja yang hanya 3 rakaat lama banget. apalagi tarawih coba :)) dan anak kecil ini selalu ketiduran kalo udah sujud rakaat ke-sekian. dan ga ada satupun dari keluarga gw yang bangunin. walaupun abis sholat tarawihnya selesai dia bangun dan aktif lagi nonton tv atau main.. haha. anak kecil... 5-6 tahun lah usia kala itu.

sempet keki dan sebel juga karena tiap abis sholat itu ayah selalu ngasih tausiyah atau ceramah gitu. bagi bocah itu lama banget. dan dia seneng banget kalo ayah harus jadi imam di mesjid. karena berarti di rumah yang jadi imam adalah abangnya.. hehehehe. kala itu, even sholat jamaah dirumah terasa ramai banget. karena apa? karena abang gw aja ada 4 lalu kakak gw 1, ditambah ibu dan nenek serta pembantu gw. seinget gw pacar abang gw juga udah pernah main ke rumah sholat jamaah bareng. rame laahh...hehe.

sekarang kaki ini kembali ke masa kini. di mana gw liat di musholla rumah gw ini cuma ada gw, ayah, dan ibu. cuma bertiga. sepi. ga ada yang lain. ayah dan ibu yang sudah menua. melemah, sampai terkadang mereka harus sholat dengan menggunakan bangku untuk duduk. katanya udah ga kuat. hari ini aku denger lafalan ayat alquran dari ayah yang dibacanya dari rakaat pertama. ayah "cuma" baca surat al-insyirah dan al-ikhlas. bacanya perlahan-lahan. hafalan surat pendek, yang ketika usia kecil sangat  gw harapkan ayah baca. sekarang semua kerasa berbeda. tinggal gw yang masih bisa berdiri di belakang mereka.  

ibaratnya, mau gw jungkir balik kaya apa juga ga akan ngebalikin keadaan kan. sekarang yang gw pikirin adalah gimana bisa bahagian mereka di hari tua mereka. gw berdoa semoga masih bisa merasakan kehadiran mereka di saat gw wisuda nanti. di saat gw dipertemukan sama pria yang tepat dalam hidup gw, yang sayang juga sama mereka sebagaimana dia menyayangi orang tuanya sendiri, di saat gw memiliki anak dan ibu masih bisa menggendongnya, ayah masih bisa menciumnya. di saat mereka bisa istirahat dengan menjadi makmum, sementara suami sholeh gw yang menjadi imam, yang lafalan ayatnya membuat mereka bahagia atas kebahagiaan gw, dan tartil tilawah qurannya mendamaikan suasana subuh di rumah gw kelak..

ya Allah, berilah umur yang panjang untuk ayah dan ibu, berilah mereka kebahagiaan di usia tua mereka. berikanlah mereka kesehatan. berikan aku kemudahan dan kelancaran dalam menjalani hidup ini untuk membahagiakan mereka ya Allah. amin ya rabbal alamin.. :')